Jumat, 11 November 2016

11 11 dijam 11:11

Kita pernah membahas tanggal ini 5 tahun lalu. 11 11 11, 11 Nopember 2011. Kau tanyakan kenapa aku begitu bahagia saat menghubunginya. Kenapa tidak, kataku waktu itu. Ini tanggal cantik, 111111 dan aku mengirim smsnya tepat pukul 11 malam lewat 11 menit. Bagus bukan...

Selalu indah mengenangmu. Tapi tidak ditahun berikutnya. Aku mendengar kabar buruk. Almarhum ibu terjatuh dari kamar mandi dan tak sadarkan diri. Koma. Itu tepat 4 tahun yang lalu...

Berita buruk itu aku terima saat aku masih di Tangerang. Saat aku sedang menginap di rumah temanku Rulis. Waktu itu sehabis maghrib aku terima telpon dari Bandung. Dan mengabarkan bahwa ibu jatuh di kamar mandi. Seketika itu, aku lemas dan menangis dihadapan Rulis.

Keesokan harinya ibu masih tak sadarkan diri. Berulangkali kakakku menelponku. Menyuruhku pulang. Tapi aku tak bisa. Karena keesokan harinya aku masih harus bekerja di pabrik. Lalu aku usulkan untuk mengirim ibu ke rumah sakit. Jangan menunggu kepulanganku, tapi pikirkan nasib ibu.

Akhirnya kakak membawa ibu ke rumah sakit. Dan aku masih di Tangerang dengan perasaan bersalah karena tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya berharap dan berdo'a ibu baik-baik saja dan segera tersadar. Tahun itu...adalah tahun terberat dalam hidupku.

Tepat 4 tahun yang lalu aku mendapat kabar dari iparku bahwa nyawa ibu bisa bertahan 11 hari. Seketika itu aku merasa petir terus menyambarku. Ribuan belati menusukku. Tidak!! Ucapku dalam hati!! Dokter itu salah telah memvonis ibu seperti itu. Allah lebih Tahu tentang hidup mati seseorang, bukan Dokter!!! Tegasku berpikir positif.

Ternyata dokter memang salah. Ibu hanya bertahan 4 hari. Dan ibu harus pergi tanpa tersadar dari koma. Dan aku, hingga kini aku masih menyesal tak bisa bertemu dengan ibu untuk yang terakhir kalinya. Bahkan sampai ibu dikebumikan. Aku masih diperjalanan saat ibu akan dikebumikan. Dan tentu saja aku harus benar-benar mengikhlaskan ibu dimakamkan tanpa harus menunggu kehadiranku. Aku ikhlas...maafkan aku ibu...itu yang terus terucap srlama aku diperjalanan pulang.

4 tahun berlalu. Aku selalu merasa ibu madih ada disini. Di dekatku. Memperhatikan aku, menjagaku.

Emak, aku rindu...



Rabu, 09 November 2016

Sedetik Rindu Yang Berbunga

Waktu cepat berlalu. Tepat satu bulan yang lalu. 09 Oktober 2016, musim rinduku bersemi. Berbunga pada masanya, pada tempatnya. Setelah bertahun-tahun gersang.

Hari minggu, tepat satu bulan lalu aku meragu. Terbangun di rumah yang hampir sama sekali tak ku kenali. Dengan menggigil dan sedikit terbatuk aku mencoba melangkahkan kaki kecilku. Menelusur ruangan kosong yang entah penghuninya masih tertidur atau entah sudah pergi untuk beraktifitas. Tapi ini hari minggu, hari dimana semua orang-orang dimanapun berlibur dan sengaja bangun siang.

Kubasahi muka dengan air seadanya. Malas rasanya mandi bila tanpa mengganti baju yang sedari kemarin aku kenakan di pesta pernikahan temanku. Ya, aku menginap ditempat saudara temanku. Dengan terpaksa.

Setelah berpamitan pada teman dan keluarga besarnya aku pulang. Masih ada sedikit rasa kecewa menggelayut pagi itu. Setelah perjalanan jauh ini, tak bisakah dia memberikan waktunya untuk menemuiku??! Ah, sudahlah...Tuhan memang tak mengizinkan. Gumamku.

Setelah sampai dipersimpangan jalan raya, aku menunggu angkutan umum berikutnya. Sambil menghibur diri, aku menyalakan musik di ponsel dan mendengarkannya lewat earphone. Baiklah,  bertemu atau tidak bertemu, aku tetap harus pulang. Masih ada bulan-bulan lain, bahkan tahun-tahun yang lain. Itupun kalau Tuhan mengizinkan.

Angkutan berwarna biru tua dan muda yang jarang itu akhirnya tiba. Ku stop, dan aku naik bergabung bersama penumpang yang lebih dulu naik sebelum aku. Alhamdulillah akhirnya aku mendapatkan angkutan juga. Meski masih terbilang pagi, tapi aku takut bila harus menunggu lebih lama lagi. Ada beberapa teman yang harus aku kunjungi. Itupun jika waktuku masih panjang dan sempat. Karena hari itu aku harus melanjutkan perjalanan pulang menuju Bandung. Tanah kelahiranku.

Aku tenggelam dimainkan alunan lagu Siti Nurhaliza yang aku putar diponselku. Lantas tiba-tiba mati dan aku segera memeriksanya. Ternyata ada panggilan masuk. Yang sebelumnya, selalu ada popcall panggilan dari nomor si pemanggil untuk aku angkat panggilannya.

Aku langsung tersenyum lebar, nomor yang selalu kuingat diluar kepala sekalipun. Nomor yang menyatukan aku dengannya. Nomor yang aku pikir itu adalah nomor ajaib yang memperkenalkan aku pada seluruh pesonanya. Dengan sedikit gemetar aku menerima panggilannya.

"Assalamu'alaikum" kataku mengawali dialog
"Wa'alaikumsalam..." jawab suara berat diseberang ponsel.
Suaranya masih sama seperti dulu. Menggetarkan jiwa dan sukmaku. Tak berubah, masih sama seperti dulu. Dingin, tegas, dan serak...
"Sekarang dimana...?" lanjutnya bertanya
"Lagi diangkot, baru lewatin jembatan." kataku
"Mau kemana...??!" tanyanya lagi
"Mau ke Cikupa laaah..." jawabku agak kesal. Kesal-kesal manja
"Emang ai lagi dimana sekarang...??" tanyaku
"Mau kerja, ke karawaci..." jawabnya singkat
"Jadi emang gak bisa ya, buat bertemu sebentar saja. Satu jam gitu??! Pintaku sedikit memaksa namun pasrah
"Sekarang dimana??!" sedikit berteriak karena suara mulai terputus-putus dan mengulang pertanyaan yang sudah ditanyakannya diawal
"Iiiih...orang lagi diangkot menuju Pasar Kemis!!?" jawabku sedikit berteriak kesal
"Ya udah tunggu di Pasar Kemis, saya kesana!!" lanjutnya
"Ya...hati-hati." jawabku senang

Aku kikuk sendiri menutup ponsel. Bertemu dengan orang yang aku cintai selama 7 tahun terakhir tanpa mandi!!! Hlah dalaaaah...skenario macam apa ini??! Hhhhh...baiklah, cukup aku persembahkan saja hatiku untuk menyapanya nanti. Gila pikirku.

Beberapa menit berlalu, angkot yang aku tumpangi sudah sampai dipersimpangan. Lantas aku turun dan membayar ongkos lebih dari biasanya. Mungkin karena aku sedang bahagia. Aaah, kebahagiaan tanpa mandi!! Aaah sudahlah...ini darurat!! 

Sambil melirik ponselku, waktu menunjukkan pukul 09:04 masih pagi, pikirku. Setahuku dia kerja siang di job sampingannya. Mudah-mudahan  bisa menghabiskan waktu setidaknya dua atau tiga jam untuk melihat seluruh pesonanya.

Dipinggiran kios depan pasar aku berteduh dari matahari yang mulai merangkak naik. Hawa panas dan teriknya matahari menambah gerah tubuhku yang belum mandi ini. Aaah, disuasana seperti ini, aku malah mengacau. Sudahlah, toh aku tidak bau badan juga. Hanya saja memang jadi tak percaya diri. Huuufffttt

Kulirik lagi jam diponselku. 09:15 lama sekali dia datang. Memang cukup jauh perjalanan yang dia tempuh yang entah dari mana dia menuju tempatku berada sekarang. Sabar Rose, kau harus bersabar. 4 tahun kau sanggup menunggunya untuk bertemu. Kau hanya perlu beberapa menit lagi untuk benar-benar bisa bertemu dengannya hari ini. Jadi jangan mengacau!!! Hatiku berkata menyemangati diri.

Menit berlalu, tanganku gatal dan segera mengirim pesan pendek ke nomornya. "ai dimana..." pesan singkatku terkirim dan....

Di seberang jalan aku melihat sosok tak asing menyetop motornya. Merogoh sakunya dan memeriksa ponselnya. Disisi lain aku memperhatikan, dan sedikit melambaikan tangan padanya. Memberitahukan keberadaanku. Lantas dia memasukan kembali ponselnya dan sedikit maju menungguku di seberang.

Dengan sedikit gemetar aku berjalan. Menyetop mobil-mobil besar yang berlalu lalang dihadapanku. Untuk sedikit memberiku jalan untuk melewatinya. Dalam hati bertanya, "aku harus bagaimana, aku harus bertanya apa, semuanya berkecamuk, aku gugup. Benar-benar gugup!!!

"Hai..." ucapku kikuk dan kaku
"Yah..." jawabnya singkat tanpa memandangku
Tanpa menunggu aba-aba darinya, aku menaiki motor dan duduk dibelakangnya. Diapun menggas motornya tanpa ada percakapan apapun....

Meter demi meter perjalanan berdebu kita lalui. Dibelakang, aku seperti orang kebingungan. Ingin bertanya tapi takut salah. Ahhh ini pertemuan pertama setelah 4 tahun berlalu dan aku hanya membisu???! Bodoh sekali aku...

"ai ada kerjaan hari ini??!" tanyaku memberanikan diri
"Ada..." jawabnya singkat
"Haah...nggak ada??!" ucapku sedikit berteriak dibelakangnya
"Ada..." tegasnya
"Oowwhhfff..." jawabku sedikit mengeluh

Lantas terdiam lagi. Lama. Dan aku masih kebingungan dibelakangnya. Jalanan yang tak rata membuat aku sedikit terguncang dari jok motor. Tanganku mulai kuat berpegangan dikiri dan kanan pinggangnya. Kuperbaiki dudukku dan mulai melingkarkan lenganku erat di pinggangnya. Aku sedikit bersandar dipunggungnya. Dan kenyamanan itu masih tetap sama seperti dulu. 

Kala 6 tahun berlalu. Pertemuan keduaku dengannya ditahun 2010. Dipenghujung tahun. Dibulan Desember. Ketika dengan riangnya aku akan bertemu untuk pertama kalinya di Tangerang. Sepulangku kerja di pabrik.

Seketika aku sibuk meminjam ini itu, meminta parfum, sedikit berbedak dan lipgloss. Aku berharap tidak menjadi ondel-ondel untuk kedua kalinya. Dan itu kali pertama aku meminta untuk tidak dijemput oleh teman yang biasa menjemputku. Dan Citra Raya menjadi pilihan pertama di pertemuanku.

Karena belum tahu apa itu Citra Raya, aku ikuti saja apa yang dikatakannya. Menaiki angkot arah Balaraja dan turun di Gerbang Citra Raya. Sesampainya di gerbang Citra Raya ternyata aku harus berjalan cukup jauh ke dalam. Ke bundaran 1. Tapi demi untuk bertemu dengannya aku siap.

Sambil cengar-cengir sendiri dan jantung yang dag dig dug tak karuan aku mengirim pesan singkat padanya. "Aku sudah sampai, ai dimana...??" tanyaku dalam sms. Lima menit berlalu dengan kecemasan dan kegelisahan juga sejuta kebahagiaan, rupanya dari kejauhan dia sedang memperhatikan aku. Dan tiba-tiba berhenti di depanku sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya. Takut salah, aku bertanya dengan malu-malu. Aku takut itu tukang ojek. Tapi aaah sudahlah, aku cukup mengenalnya dengan semua pesonanya.

Setelah bersalaman dan saling bertanya kabar, aku duduk dibelakang motor. Waktu itu kulihat senyum terus terlihat di wajahnya. Tidak seperti sebulan yang lalu. Dengan tersipu aku bertanya kita akan kemana, dia hanya tersenyum. Masih malu-malu aku melingkarkan lenganku dipinggangnya. "Tak ada yang marah, kan?!" rayuku manja
Seperti biasa dia hanya tersenyum. Lagi-lagi aku bertanya hal yang sama padanya, " Ini arah jalan kemana..?!"
Lantas dia menjawab, "Kemana ajalah!!."
"Iya dech, gimana sopirnya aja, aku mah ngikut aja, da nggak tahu jalannya." kataku dengan perasaan senang.

Sepanjang perjalanan saat itu, aku lebih banyak diam di belakang. Menyandarkan kepalaku dan menutup mataku. Bukan sedang meresapi, tapi karena jalanan yang dilalui memang sedikit berdebu dan baiklah, aku merasa nyaman.

Sesaat kenyamanan itu harus terhenti entah dimana. Dia menghentikan motornya di pinggir jalan. Dan mengajakku mampir disebuah warung bakso. Setelah sebelumnya menanyaiku, sudah makan apa belum. Sambil menunggu pesanan dibuat, seperti biasa kita hanya terdiam. Saling pandang dan sedikit berbasa basi.

Setelah bakso kita habiskan. Kita melanjutkan perjalanan. Sesaat aku bertanya, "Kita dimana sih??!" 
"Dimana aja boleh..." jawabnya sambil tersenyum
Selalu seperti itu, bercanda!! 
Motor dihidupkan dan kembali aku duduk dibelakang. Sekarang tanpa ragu aku memeluknya dari belakang. Aku merasakan kenyaman itu dihatiku. Dan aku bahagia...

Ternyata, dia mengantarku pulang lewat jalan pintas. Diantarkannya aku sampai rusun yang duluaku tinggali di Tangerang. Dia matikan motornya, aku turun dan berbasa basi.
"Makasih ya..." ucapku
"Iya..." jawabnya dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.
"Udah gitu aja...??" lanjutku
"Iya...ntar lagi aja..." jawabnya singkat
"Ya udah, hati-hati ya ai..." sambungku
"Iya, pulang dulu ya, assalamu'alaikum" ucapnya sambil menyalakan lagi motornya

Sore itu, aku harus melepasnya pulang dengan hato yang berbunga. Kulihat dimatanya, kebahagiaan yang dia rasakan. Benar-benar tulus...

Kini, sebulan yang lalu, perasaan itu masih sama. Meski senyum itu kini dipaksakan. Bahkan terlihat tanpa senyum di wajahnya. Yang ku lihat hanya kekhawatiran dan kecemasan. Dan aku mengerti itu kenapa.

Lama terdiam, kali ini dia yang membuka suara.
"Eza nggak diajak?!" tanyanya
"Nggak, biar cepet kemana-mananya kalau tanpa Eza." jelasku

Terdiam lagi. Lagi. Dan lagi. Sepertinya aku dan dia benar-benar bingung harus berkata apalagi. Tak ada basa basi yang pas untuk memulai pembicaraan yang panjang diperjalanan rindu berbungaku pagi itu.

Sampai dikontrakan temanku aku lebih kebingungan. Aku memaksa mempersilakannya masuk. Tapi dia tetap ingin menunggu di teras. Masih kebingungan aku membuatkannya kopi. Padahal aku sendiri yang mencegahnya untuk tak terlalu banyak meminum kopi karena untuk kesehatannya.

Dipertemuan pertama setelah 4 tahun berlalu, aku malah membuatnya menunggu. Aku bergegas mandi. Dan membiarkannya terduduk sendiri di teras selama satu jam. Pikirku, biar dia merasakan bagaimana rasanya menunggu. Bodoh sekali aku melakukan itu. Bukannya menemani dia mengobrol atau melepas kerinduan yang selalu berkobar-kobar itu. Aku malah mengacau lagi. Tapi, aah sudahlah. Aku belum mandi!!! Itu hal yang membuat hari pertemuanku kacau. Hhhhuuuuffftttt

Selesai aku mandi, dia pamit berangkat. Bahkan aku belum sempat duduk bersama untuk sekedar berbasa-basi dengannya. Tapi aku harus melepasnya. Bagiku ini cukup, cukup bahagia karena dia mau menemuiku. Terima kasih...

Kini sebulan lebih berlalu. Tanpa ada komunikasi apapun. Tapi aku yakin, do'a dan perasaan kita akan tetap menyatu, merangkul dalam ketulusan. Menyatu tak harus bersama. Cukup perasaan yang terekat kuat. Yakinlah, dari awal hingga keakhirnya, hati dan cinta ini tetap milikmu.

Selamat petang ai, terima kasih untuk tetap mengizinkan aku melihatmu bahagia menua bersama mereka...


Senin, 29 Agustus 2016

NyaMan

Kenyamanan itu tak akan pernah lekang oleh waktu. Selama apapun kita tak saling sapa, rasa nyaman itu masih sama seperti di awal aku merasakan'a.

Aku selalu nyaman bertukar pikiran denganmu. Engkau tetap hangat meski aku sering merajuk. Ah kamuuuu....sekarang udah susah banget buat ungkapin semua kata" lebay itu. Karena rasa'a memori" itu udah terlanjur mendarah daging. Menyatu dengan jiwa.

Terima kasih sayang, engkau selalu hadir disaat" ku tengah gerhana. Hari ini ...i miss you both ai.....

Minggu, 06 Maret 2016

Jodohnya

"Kamu nggak pernah tahu,kan? Bagaimana saya bisa jadi sama yang ketiga?"

Itu awal perbincangan kami kesekian kalinya di sms, atau sekedar menelpon beberapa jam di hari-hari sendiriku. Dilihat dari cara dia bercerita, aku tahu dia mengatakan yang sebenarnya. Dengan seksama aku mendengarkan dan membaca semua isi smsnya. Mengharukan......
****

Semenjak SMA dulu, aku kenal dengan seorang wanita bernama Wirayanti. Kami sudah menjalin hubungan selama 8 tahun, Dan di tahun ke delapan pula, aku harus merelakan dia menikahi oranglain yang tidak pernah dicintainya. Kakaknya menjodohkan dia dengan temannya sebagai balas budi kebaikan temannya terhadap keluarganya. Yang membiayai sekolah Yanti hingga masuk kuliah. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Meski sakit, aku harus merelakannya. Disitulah awal kebrutalanku semakin menjadi-jadi. Seorang manusia yang tengah patah hati dan merasa harapannya telah hancur oleh sebuah perjodohan kekasihnya bersama oranglain.
Setahun berlalu aku mencoba bangkit dari keterpurukan. Meski masih dijalan yang kelam, aku berusaha bangkit. Mengusir bayang-bayang Yanti dari hidupku. Hingga kemudian Tuhan mempertemukan aku dengan wanita lain. Namanya Dibya Kartika Dewi. Kartika begitu mencintaiku. Itulah kenapa sekarang nama anak pertamaku aku beri nama dia. Kartika, Nama yang indah, yang tak akan pernah aku lupakan hingga aku harus terus mengingatnya lewat nama anakku sendiri. Dan tentu saja, anakku bukan hasil dari pernikahan aku dengan Kartika. Karena ternyata Tuhan lebih menyayangi Kartika dibanding harus memberikan hidupnya untuk mendampingiku yang waktu itu masih terpuruk.

Tuhan harus mengambilnya dariku. Saat itu aku berpikir Tuhan benar-benar tak adil dengan hidupku. Aku yang baru saja bisa bangkit dari keterpurukanku, tiba-tiba saja aku harus tersadar bahwa orangtua Kartika tidak merestui hubungan kami. Alasannya memang masuk diakal. Aku yang saat itu menjadi anak nakal di kampungku menjadi alasan satu-satunya orangtua Kartika tidak menyetujui aku mencintai anaknya. Berbagai cara telah dilakukan untuk meyakinkan kedua orangtuanya. Agar mereka bisa menyetujui kami.

Kartika sayang Kartika malang. Kita benar-benar tak pernah ditakdirkan bersama. Saat kita tengah frustasi dan benar-benar putus asa, kita habiskan waktu bersama dengan semua kenakalan-kenakalan kami. Segala macam psikotropika kami konsumsi untuk menghilangkan kegalauan kami. Hingga tubuh Kartika tak bisa lagi menanggung semuanya. Terlebih rasa sakit hatinya yang tak pernah bisa bersatu denganku hingga maut memisahkan. Kenapa Tuhan begitu membenciku? Kenapa Tuhan senang membiarkan aku menderita? Belum hilang oleh rasa sakit kehilangan Yanti, sekarang aku benar-benar harus kehilangan Kartika selama-lamanya.

****

Seketika hening membunuh perbincangan kami di udara. Terasa di belahan bumi sana dia tengah meratapi semuanya. Semua yang dia ceritakan malam itu benar-benar membuatku seolah-olah aku berada dalam ceritanya. Menjadi dirinya, merasakan dan mengalaminya. Butir hangat tak terasa membasahi pipi, aku terharu. Aku yakin sulit mengalaminya. Tapi dia sanggup menjalaninya hingga bertemu dengan yang ketiga.

"Jadi bagaiman ai bisa bertemu dengan yang ketiga?" tanyaku menyambung ceritanya yang sempat terhenti.
"Ya, yang ketiga ini mamanya anak-anak." jawabnya.
"Ya gimana ceritanya?" tanyaku selidik ingin tahu.
"Gak kebayang gimana tampannya ya ai, sampai almarhum Dibya frustasi." kataku sedikit bercanda.
"Hahaha...." tawa khasnya, tawa yang selalu aku rindukan hingga saat ini.
"Udah ya, mau pulang dulu..." lanjutnya mengakhiri dialog malam itu.

****

Tak ada yang special di cerita yang ketiga, aku bahkan tidak mengingatnya. Bagaimana caranya dia bisa bertemu dengan yang sekarang. Yang selalu mengataiku kotoran dan kata-kata kotor lainnya. Seingatku dia dikenalkan oleh temannya dengan wanita bernama Ifah. Terus sebulan berlanjut, entah dua atau tiga bulan kemudian dia meminta bibinya untuk menemaninya melamar Ifah di belahan Jawa sana. Entah keberuntungan macam apa, hingga Ifah bertemu dia dalam keadaan sudah sadar dan baik. Mungkin dia yakin bahwa Ifah ini jodohnya. Meski tanpa cinta seperti yang selalu diungkapkannya padaku 6 tahun yang lalu.Saat dia katakan bahwa; "Tak akan pernah ada mantan anak atau mantan ayah......."

****

Sabtu, 27 Februari 2016

AWAL II

Siang itu aku membolak-balikan ikan mas yang aku goreng, agar tak terbiarkan gosong diminyak panas.  Tangan kiri sibuk memasang ponsel di telingaku. Terkadang aku cekikikan mendengar guyonannya yang selalu berhasil membuat hatiku terloncat girang. kali ini aku sudah berada di tempat orang tuaku. Keputusan berpisah telah Aby (mantan suami) pilih. Meski getir, aku tetap harus menghargai keputusannya. Meski aku harus menyandang gelar yang selama hidupku aku tak pernah menyangka akan mendapatkannya. Menjadi seorang janda bukan sebuah perkara yang mudah. Diawal, aku merasa ini sebuah aib. Lalu kemudian aku sadar, ini bukan kemauanku. Dan aku harus mensyukurinya.

13 April 2010, Aby mengantarku pada orangtuaku. Malam itu, dengan rasa malu teramat sangat aku pulang membawa kegagalan di hadapan orangtuaku. Kegagalan membangun rumah tangga yang baru aku bina sekitar 4 tahun kurang. Entah apa yang menjadi pemicunya. Hingga saat ini pun aku tidak pernah mengerti apa sebab pemulanganku. Masa iddah sudah aku lewati, Memperbaiki kesalahan sudah aku lakukan untuk memperjuangkan rumah tanggaku agar tetap utuh. Tapi sepertinya, ada pihak ketiga yang begitu kuat mempengaruhi keputusan Aby. Hingga saat itu, diteras rumah aku terduduk membisu bersama Aby.
"Jadi Aby tidak akan rujuk dan memperbaiki semuanya? Aby udah gak sayang lagi sama Keyzha, sama Umy?? Tolong by, kalau memang Umy yang salah maafkan Umy, Umy janji akan berubah menjadi lebih baik, Umy akan lupain semua sikap ringan tangan Aby sama Umy, tapi tolong jangan tinggalin Umy, sekeras apapun Aby memperlakukan Umy, Umy tetap mencintai Aby. Kita buka lembaran baru, dan tutup lembaran lama. Umy mohon by, mohon......" jelasku panjang dan gemetar saat mengucapkannya menahan airmata agar tak turun di pipiku, sepanjang perjuanganku mempertahankan rumah tangga yang sudah di ujung tanduk.

 "TIDAK!!" jawaban singkat yang membuat runtuh pertahananku. Dan membuat aku tersedu di hadapannya. Dihadapan orang yang begitu aku cintai dan aku perjuangkan. Tatapannya dingin, menatap lurus tanpa memperdulikan aku yang tengah menangisinya.
"Tapi kenapa by, kenapa...???" ucapku lirih
Tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia terduduk mematung, dan aku terus terisak berusah tegar menerima semua keputusannya.
"Baiklah, Umy tanya sekali lagi sama Aby. Apakah Aby masih mencintai, menyayangi Umy....Apakah masih ada rasa cinta, sayang, kasih, atau iba sama Umy...??!! tanyaku penuh harap
"Teu!!!" jawabnya datar

Kali ini tangisku benar-benar pecah. Pagi itu itu aku tersadar dari mimpi burukku. Bahwa semua yang aku rasakan selama ini tak pernah terbalaskan. Hingga akhirnya aku benar-benar ikhlas melepas semuanya. Cintaku untuknya, kesetiaanku, sayangku, dirinya, aku benar-benar telah membebaskan perasaanku sendiri dan berdamai detik itu. Sepersekian detik, rasa itu benar-benar hilang dari hatiku. Dan seolah-olah aku melihatnya terbang menjauhiku. Hinggirnya akhirnya aku merasakan kekosongan dan kehampaan yang benar-benar kentara pagi itu.

****

"Masa sih..." 
Dengan senyum yang terus mengambang aku mendengarkan dia bicara. Selalu nyaman bila mendengar suaranya. Hingga saat tak tersadarkan, aku mengirimi dia sms yang aku pikir aku lancang telah mengatakannya malam kamis di bulan Mei tahun 2010 dulu.
"Kok tiba-tiba kangen ya...." smsku padanya
"Masa sih...." selalu jawaban yang sama

Bagaimana tidak merindukannya. Bila setiap pagi, siang, sore, malam dia selalu menelponku tak kenal waktu. Aku yang saat itu bagai anak kecil yang diberi gulali, selalu girang bila ada panggilan masuk darinya. Dia selalu membawaku ke dunianya. Selalu menggambarkanku apa yang sedang dilihatnya, didengarnya. Hingga aku benar-benar merasa berada di sampingnya. Bahkan saat jam kerjanyapun dia selalu menghubungiku. dan aku selalu senang bila ponselku berbunyi.

Pernah di satu petang dia menghubungiku disela-sela break kerja lemburnya.
"Tau nggak, saya lagi tiduran di pasir sambil liat langit.....bulannya terang..." katanya
Sontak aku yang lagi tiduran di kamar langsung berlari keluar, dan duduk diteras. Meski pemandangan langitnya terhalang bangunan-bangunan tinggi, tapi aku bisa melihat bulan terang yang dilihatnya.
"Iya...aku juga lihat..." timpalku
"Tapi kok dipasir sih...emang lagi di pantai ya...??" tanyaku sedikit heran.
"Iya di pantai..nih dengerin ombaknya...kedengeran nggak...?!" tanyanya memastikan padaku bahwa dia benar-benar berada di pantai saat itu.
"Iya sih...." jawabku masih sedikit ragu.
"Enak ya jam segini liat bulan di pantai." lanjutku
"Iya...kan proyeknya juga di pantai...nih ini aja selangkah lagi kaki basah kena ombak..." sambungnya.
"Mau..........." rengekku.

Dialog diudara terus tersambung hingga setengah jam berlalu dan dia harus kembali bekerja malam itu. Meninggalkan aku yang selalu merindukan pembiasaan darinya dan terlebih, PERHATIANNYA. 

Pembiasaan itu harus berakhir, saat proyek yang sedang dikerjakannya selesai. Awalnya aku tak tahu kalau proyeknya selesai. Karena dia hanya mengatakan padaku kalau dia harus pulang barang seminggu atau dua minggu. Dia hanya menitip pesan penting padaku seperti ini; "Jangan menelpon atau mengirim sms sebelum saya yang menelpon atau sms." Pesan singkat yang awalnya aku mengerti itu hanya sebatas pesan biasa. Ternyata.....

****

AWAL

Katakanlah, ini tahun keenam perjalananku mengenali dia. Seseorang yang sanggup menggantikan posisi mantan suamiku dulu di hidupku. Aku memanggilnya "ai". Dari yang aku tahu sebelumnya disebuah majalah remaja dulu, kata "ai" berasal dari bahasa Jepang yang berarti "kasih". Setelah sekian banyak panggilan yang aku berikan buat dia, kata "ai" lah yang aku pilih hingga sekarang.

Awal perkenalanku dengan dia, memang tidak pernah disangka. Bahkan untuk berharap bertemu dangan orang seperti diapun tak pernah terlintas dipikiranku. Semuanya seperti sebuah skenario yang Tuhan tulis untukku dan dia hingga sekarang. Bahkan hingga sekarang aku tidak pernah menyadarinya, hingga aku bisa mengenali dia dan mencintainya.

"ai" aku memanggilnya, dengan huruf awal kecil, meski itu tertulis diawal kalimat sekalipun. Aku akan tetap menulisnya seperti itu. "ai'. tak boleh menjadi "Ai" , atau 'AI". Harus tetap "ai". Seperti bagaimana penggambaran perasaanku padanya. Harus tetap mencintainya, tidak boleh menjadi memilikinya, atau tidak mencintainya. Tidak boleh kurang atau lebih. Hanya mencintainya. Titik.

Hari itu, tahun 2010, Maret entah tanggal berapa, aku meminta suamiku (yang pada saat itu tengah masa islah dalam iddah) untuk menemani aku membeli hp disebuah pusat keramaian di Cicalengka. Setelah beberapa kali masuk ke berbagai counter hp dan melalukan penawaran. Entah kenapa pada hari itu, aku begitu tertarik pada satu mobile dan langsung memilihnya. Second sih sebenarnya. Disesuaikan sama bugget yang aku punya waktu itu. Hasil dari menjual cincin kawin yang sebentar lagi harus aku tanggalkan. Niat awal menjual cincin kawinku waktu itu sebenarnya bukan ingin membeli gadget yang beberapa bulan sebelumnya pernah mantan suamiku hancurkan karena egonya. Melainkan karena aku ingin memberi hadiah untuk mantan suamiku yang pada bulan Maret itu tengah milad. Karena aku sudah tidak dinafkahi dan memang tidak memiliki uang, aku terpaksa menjualnya dan membelikannya sebuah kado dan kue ulang tahun untuknya. 

Setelah aku menyelesaikan pembayaranku, kami pulang menggunakan motor vespa yang baru saja dia kredit dari temannya. Ya....sepeninggal dari kata talak yang keluar dari mulutnya waktu itu serta penghancuran besar-besaran di rumah, dia lebih memilih kesibukan yang lain setelah pekerjaanya sebagai seorang sopir honorer di sebuah perusahaan BUMN di kota Bandung. Dia aktif disebuah club vespa dan perkumpulan lainnya. Yang menurutku, itulah tititk awal secara tak sadar dia mulai lupa dengan seluruh kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah dari anak angkat kami.

Sebenarnya bukan ini yang akan aku tulis disini. Tapi disinilah semuanya berawal.

***

Malam itu, aku mulai mengotak atik hp baruku. Anggaplah seperti itu, hp baru seperti yang lainnya. Hp baru bekas orang dan aku menyukainya. Sonny Erricson K310i. Kecil dan sepertinya memang cocok buatku, pikirku. Aku tidak pernah mengira, pemilik hp sebelumnya masih menyimpan semua kontaknya di hp ini hingga hp ini dipasarkan. Terlalu banyak kontak disini, dan aku sama sekali tidak mengenali mereka. Maka aku hapus satu persatu semua kontak yang ada di hp itu. Walau jujur saja, sebelum menghapusnya, aku mencoba melakukan panggilan terlebih dahulu. Bila tersambung, berarti masih aktif dan sebaliknya, begitu seterusnya. Hingga kemudian aku mengirimi satu persatu sms ke semua nomor yang masih aktif. Ada yang kemudian langsung membalas, dan ada juga yang mengabaikan smsku. Ada yang membalas sewajarnya, dan ada pula yang membalas tak wajar yang kemudian aku hapus dari list nomor kontak hp ini. Lagipula aku tidak mengenalnya pikirku waktu itu.

Dari sekian banyak yang aku hubungi dan aku sms. Ada satu orang yang membalas smsku yang seperti ini;
"Apakah semua laki-laki di dunia ini sama?"
"Semua laki-laki di dunia ini sama, yang beda itu sifatnya." balasnya.
Pertanyaan yang menggantung, dan jawaban yang menggantung pula darinya. Setelah smsku dia balas, lalu aku mencoba untuk tertidur.

Keesokan paginya ada panggilan masuk dari orang yang membalas smsku semalam. Tapi aku tidak mendengar suaranya. Dan tersambung dengan sms yang datang setelah dia menutup telponnya.
"Ini siapa?" tanyanya.
" Saya Rosma." balas smsku.
"Anak mana?" lanjutnya.
"Anak emak sama bapak." lanjutku lagi.
...................................................................... begitu seterusnya tentang pertanyaan dan jawaban singkat antara aku dan dia terus berlangsung hingga obrolan di telpon pun kami lakukan. Bahkan obrolan yang kami lalukan menjadi lebih intens dan akrab. Terkadang kami tak tahu waktu saat berdialog via udara saat itu. Belum ada perasaan yang aku mengerti untuk aku simpulkan saat itu. Aku hanya merasa cukup nyaman saat dia menelponku atau sekedar mengirimiku sms.

Bahkan aku sudah tak canggung lagi untuk menerima panggilan masuk darinya saat mantan suamiku sesekali menengok Keyzha, anak semata wayang kami. Meski obrolanku saat itu lebih didominasi oleku, dan dia hanya bertindak sebagai pendengar yang baik untuk semua curhatan tentang kehidupan pelik yang aku alami saat itu.

Bagiku saat itu, dialah orang pertama yang menjadi saksi bagaimana masa-masa gerhana itu aku alami sendirian. Yang mengetahui bagaimana tersiksanya aku ditinggalkan tergantung oleh orang yang aku sayangi saa itu. Suamiku sendiri. Hanya dia yang mampu mengerti perasaan kehilangan macam apa yang aku alami saat itu. Enam tahun yang lalu.

Bahkan hingga saat ini, aku masih bisa mengingat semua kata demi kata yang keluar dari suara yang keluar dari mulutnya. Aku sedang apa waktu itu, hingga semuanya benar-benar melekat kuat dalam ingatanku hingga saat ini. Tiba saatnya ketika aku ingin mengetahui siapa dia sebenarnya; dia hanya berkata "belum waktunya."

***