Rabu, 09 November 2016

Sedetik Rindu Yang Berbunga

Waktu cepat berlalu. Tepat satu bulan yang lalu. 09 Oktober 2016, musim rinduku bersemi. Berbunga pada masanya, pada tempatnya. Setelah bertahun-tahun gersang.

Hari minggu, tepat satu bulan lalu aku meragu. Terbangun di rumah yang hampir sama sekali tak ku kenali. Dengan menggigil dan sedikit terbatuk aku mencoba melangkahkan kaki kecilku. Menelusur ruangan kosong yang entah penghuninya masih tertidur atau entah sudah pergi untuk beraktifitas. Tapi ini hari minggu, hari dimana semua orang-orang dimanapun berlibur dan sengaja bangun siang.

Kubasahi muka dengan air seadanya. Malas rasanya mandi bila tanpa mengganti baju yang sedari kemarin aku kenakan di pesta pernikahan temanku. Ya, aku menginap ditempat saudara temanku. Dengan terpaksa.

Setelah berpamitan pada teman dan keluarga besarnya aku pulang. Masih ada sedikit rasa kecewa menggelayut pagi itu. Setelah perjalanan jauh ini, tak bisakah dia memberikan waktunya untuk menemuiku??! Ah, sudahlah...Tuhan memang tak mengizinkan. Gumamku.

Setelah sampai dipersimpangan jalan raya, aku menunggu angkutan umum berikutnya. Sambil menghibur diri, aku menyalakan musik di ponsel dan mendengarkannya lewat earphone. Baiklah,  bertemu atau tidak bertemu, aku tetap harus pulang. Masih ada bulan-bulan lain, bahkan tahun-tahun yang lain. Itupun kalau Tuhan mengizinkan.

Angkutan berwarna biru tua dan muda yang jarang itu akhirnya tiba. Ku stop, dan aku naik bergabung bersama penumpang yang lebih dulu naik sebelum aku. Alhamdulillah akhirnya aku mendapatkan angkutan juga. Meski masih terbilang pagi, tapi aku takut bila harus menunggu lebih lama lagi. Ada beberapa teman yang harus aku kunjungi. Itupun jika waktuku masih panjang dan sempat. Karena hari itu aku harus melanjutkan perjalanan pulang menuju Bandung. Tanah kelahiranku.

Aku tenggelam dimainkan alunan lagu Siti Nurhaliza yang aku putar diponselku. Lantas tiba-tiba mati dan aku segera memeriksanya. Ternyata ada panggilan masuk. Yang sebelumnya, selalu ada popcall panggilan dari nomor si pemanggil untuk aku angkat panggilannya.

Aku langsung tersenyum lebar, nomor yang selalu kuingat diluar kepala sekalipun. Nomor yang menyatukan aku dengannya. Nomor yang aku pikir itu adalah nomor ajaib yang memperkenalkan aku pada seluruh pesonanya. Dengan sedikit gemetar aku menerima panggilannya.

"Assalamu'alaikum" kataku mengawali dialog
"Wa'alaikumsalam..." jawab suara berat diseberang ponsel.
Suaranya masih sama seperti dulu. Menggetarkan jiwa dan sukmaku. Tak berubah, masih sama seperti dulu. Dingin, tegas, dan serak...
"Sekarang dimana...?" lanjutnya bertanya
"Lagi diangkot, baru lewatin jembatan." kataku
"Mau kemana...??!" tanyanya lagi
"Mau ke Cikupa laaah..." jawabku agak kesal. Kesal-kesal manja
"Emang ai lagi dimana sekarang...??" tanyaku
"Mau kerja, ke karawaci..." jawabnya singkat
"Jadi emang gak bisa ya, buat bertemu sebentar saja. Satu jam gitu??! Pintaku sedikit memaksa namun pasrah
"Sekarang dimana??!" sedikit berteriak karena suara mulai terputus-putus dan mengulang pertanyaan yang sudah ditanyakannya diawal
"Iiiih...orang lagi diangkot menuju Pasar Kemis!!?" jawabku sedikit berteriak kesal
"Ya udah tunggu di Pasar Kemis, saya kesana!!" lanjutnya
"Ya...hati-hati." jawabku senang

Aku kikuk sendiri menutup ponsel. Bertemu dengan orang yang aku cintai selama 7 tahun terakhir tanpa mandi!!! Hlah dalaaaah...skenario macam apa ini??! Hhhhh...baiklah, cukup aku persembahkan saja hatiku untuk menyapanya nanti. Gila pikirku.

Beberapa menit berlalu, angkot yang aku tumpangi sudah sampai dipersimpangan. Lantas aku turun dan membayar ongkos lebih dari biasanya. Mungkin karena aku sedang bahagia. Aaah, kebahagiaan tanpa mandi!! Aaah sudahlah...ini darurat!! 

Sambil melirik ponselku, waktu menunjukkan pukul 09:04 masih pagi, pikirku. Setahuku dia kerja siang di job sampingannya. Mudah-mudahan  bisa menghabiskan waktu setidaknya dua atau tiga jam untuk melihat seluruh pesonanya.

Dipinggiran kios depan pasar aku berteduh dari matahari yang mulai merangkak naik. Hawa panas dan teriknya matahari menambah gerah tubuhku yang belum mandi ini. Aaah, disuasana seperti ini, aku malah mengacau. Sudahlah, toh aku tidak bau badan juga. Hanya saja memang jadi tak percaya diri. Huuufffttt

Kulirik lagi jam diponselku. 09:15 lama sekali dia datang. Memang cukup jauh perjalanan yang dia tempuh yang entah dari mana dia menuju tempatku berada sekarang. Sabar Rose, kau harus bersabar. 4 tahun kau sanggup menunggunya untuk bertemu. Kau hanya perlu beberapa menit lagi untuk benar-benar bisa bertemu dengannya hari ini. Jadi jangan mengacau!!! Hatiku berkata menyemangati diri.

Menit berlalu, tanganku gatal dan segera mengirim pesan pendek ke nomornya. "ai dimana..." pesan singkatku terkirim dan....

Di seberang jalan aku melihat sosok tak asing menyetop motornya. Merogoh sakunya dan memeriksa ponselnya. Disisi lain aku memperhatikan, dan sedikit melambaikan tangan padanya. Memberitahukan keberadaanku. Lantas dia memasukan kembali ponselnya dan sedikit maju menungguku di seberang.

Dengan sedikit gemetar aku berjalan. Menyetop mobil-mobil besar yang berlalu lalang dihadapanku. Untuk sedikit memberiku jalan untuk melewatinya. Dalam hati bertanya, "aku harus bagaimana, aku harus bertanya apa, semuanya berkecamuk, aku gugup. Benar-benar gugup!!!

"Hai..." ucapku kikuk dan kaku
"Yah..." jawabnya singkat tanpa memandangku
Tanpa menunggu aba-aba darinya, aku menaiki motor dan duduk dibelakangnya. Diapun menggas motornya tanpa ada percakapan apapun....

Meter demi meter perjalanan berdebu kita lalui. Dibelakang, aku seperti orang kebingungan. Ingin bertanya tapi takut salah. Ahhh ini pertemuan pertama setelah 4 tahun berlalu dan aku hanya membisu???! Bodoh sekali aku...

"ai ada kerjaan hari ini??!" tanyaku memberanikan diri
"Ada..." jawabnya singkat
"Haah...nggak ada??!" ucapku sedikit berteriak dibelakangnya
"Ada..." tegasnya
"Oowwhhfff..." jawabku sedikit mengeluh

Lantas terdiam lagi. Lama. Dan aku masih kebingungan dibelakangnya. Jalanan yang tak rata membuat aku sedikit terguncang dari jok motor. Tanganku mulai kuat berpegangan dikiri dan kanan pinggangnya. Kuperbaiki dudukku dan mulai melingkarkan lenganku erat di pinggangnya. Aku sedikit bersandar dipunggungnya. Dan kenyamanan itu masih tetap sama seperti dulu. 

Kala 6 tahun berlalu. Pertemuan keduaku dengannya ditahun 2010. Dipenghujung tahun. Dibulan Desember. Ketika dengan riangnya aku akan bertemu untuk pertama kalinya di Tangerang. Sepulangku kerja di pabrik.

Seketika aku sibuk meminjam ini itu, meminta parfum, sedikit berbedak dan lipgloss. Aku berharap tidak menjadi ondel-ondel untuk kedua kalinya. Dan itu kali pertama aku meminta untuk tidak dijemput oleh teman yang biasa menjemputku. Dan Citra Raya menjadi pilihan pertama di pertemuanku.

Karena belum tahu apa itu Citra Raya, aku ikuti saja apa yang dikatakannya. Menaiki angkot arah Balaraja dan turun di Gerbang Citra Raya. Sesampainya di gerbang Citra Raya ternyata aku harus berjalan cukup jauh ke dalam. Ke bundaran 1. Tapi demi untuk bertemu dengannya aku siap.

Sambil cengar-cengir sendiri dan jantung yang dag dig dug tak karuan aku mengirim pesan singkat padanya. "Aku sudah sampai, ai dimana...??" tanyaku dalam sms. Lima menit berlalu dengan kecemasan dan kegelisahan juga sejuta kebahagiaan, rupanya dari kejauhan dia sedang memperhatikan aku. Dan tiba-tiba berhenti di depanku sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya. Takut salah, aku bertanya dengan malu-malu. Aku takut itu tukang ojek. Tapi aaah sudahlah, aku cukup mengenalnya dengan semua pesonanya.

Setelah bersalaman dan saling bertanya kabar, aku duduk dibelakang motor. Waktu itu kulihat senyum terus terlihat di wajahnya. Tidak seperti sebulan yang lalu. Dengan tersipu aku bertanya kita akan kemana, dia hanya tersenyum. Masih malu-malu aku melingkarkan lenganku dipinggangnya. "Tak ada yang marah, kan?!" rayuku manja
Seperti biasa dia hanya tersenyum. Lagi-lagi aku bertanya hal yang sama padanya, " Ini arah jalan kemana..?!"
Lantas dia menjawab, "Kemana ajalah!!."
"Iya dech, gimana sopirnya aja, aku mah ngikut aja, da nggak tahu jalannya." kataku dengan perasaan senang.

Sepanjang perjalanan saat itu, aku lebih banyak diam di belakang. Menyandarkan kepalaku dan menutup mataku. Bukan sedang meresapi, tapi karena jalanan yang dilalui memang sedikit berdebu dan baiklah, aku merasa nyaman.

Sesaat kenyamanan itu harus terhenti entah dimana. Dia menghentikan motornya di pinggir jalan. Dan mengajakku mampir disebuah warung bakso. Setelah sebelumnya menanyaiku, sudah makan apa belum. Sambil menunggu pesanan dibuat, seperti biasa kita hanya terdiam. Saling pandang dan sedikit berbasa basi.

Setelah bakso kita habiskan. Kita melanjutkan perjalanan. Sesaat aku bertanya, "Kita dimana sih??!" 
"Dimana aja boleh..." jawabnya sambil tersenyum
Selalu seperti itu, bercanda!! 
Motor dihidupkan dan kembali aku duduk dibelakang. Sekarang tanpa ragu aku memeluknya dari belakang. Aku merasakan kenyaman itu dihatiku. Dan aku bahagia...

Ternyata, dia mengantarku pulang lewat jalan pintas. Diantarkannya aku sampai rusun yang duluaku tinggali di Tangerang. Dia matikan motornya, aku turun dan berbasa basi.
"Makasih ya..." ucapku
"Iya..." jawabnya dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.
"Udah gitu aja...??" lanjutku
"Iya...ntar lagi aja..." jawabnya singkat
"Ya udah, hati-hati ya ai..." sambungku
"Iya, pulang dulu ya, assalamu'alaikum" ucapnya sambil menyalakan lagi motornya

Sore itu, aku harus melepasnya pulang dengan hato yang berbunga. Kulihat dimatanya, kebahagiaan yang dia rasakan. Benar-benar tulus...

Kini, sebulan yang lalu, perasaan itu masih sama. Meski senyum itu kini dipaksakan. Bahkan terlihat tanpa senyum di wajahnya. Yang ku lihat hanya kekhawatiran dan kecemasan. Dan aku mengerti itu kenapa.

Lama terdiam, kali ini dia yang membuka suara.
"Eza nggak diajak?!" tanyanya
"Nggak, biar cepet kemana-mananya kalau tanpa Eza." jelasku

Terdiam lagi. Lagi. Dan lagi. Sepertinya aku dan dia benar-benar bingung harus berkata apalagi. Tak ada basa basi yang pas untuk memulai pembicaraan yang panjang diperjalanan rindu berbungaku pagi itu.

Sampai dikontrakan temanku aku lebih kebingungan. Aku memaksa mempersilakannya masuk. Tapi dia tetap ingin menunggu di teras. Masih kebingungan aku membuatkannya kopi. Padahal aku sendiri yang mencegahnya untuk tak terlalu banyak meminum kopi karena untuk kesehatannya.

Dipertemuan pertama setelah 4 tahun berlalu, aku malah membuatnya menunggu. Aku bergegas mandi. Dan membiarkannya terduduk sendiri di teras selama satu jam. Pikirku, biar dia merasakan bagaimana rasanya menunggu. Bodoh sekali aku melakukan itu. Bukannya menemani dia mengobrol atau melepas kerinduan yang selalu berkobar-kobar itu. Aku malah mengacau lagi. Tapi, aah sudahlah. Aku belum mandi!!! Itu hal yang membuat hari pertemuanku kacau. Hhhhuuuuffftttt

Selesai aku mandi, dia pamit berangkat. Bahkan aku belum sempat duduk bersama untuk sekedar berbasa-basi dengannya. Tapi aku harus melepasnya. Bagiku ini cukup, cukup bahagia karena dia mau menemuiku. Terima kasih...

Kini sebulan lebih berlalu. Tanpa ada komunikasi apapun. Tapi aku yakin, do'a dan perasaan kita akan tetap menyatu, merangkul dalam ketulusan. Menyatu tak harus bersama. Cukup perasaan yang terekat kuat. Yakinlah, dari awal hingga keakhirnya, hati dan cinta ini tetap milikmu.

Selamat petang ai, terima kasih untuk tetap mengizinkan aku melihatmu bahagia menua bersama mereka...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar