"Kamu nggak pernah tahu,kan? Bagaimana saya bisa jadi sama yang ketiga?"
Itu awal perbincangan kami kesekian kalinya di sms, atau sekedar menelpon beberapa jam di hari-hari sendiriku. Dilihat dari cara dia bercerita, aku tahu dia mengatakan yang sebenarnya. Dengan seksama aku mendengarkan dan membaca semua isi smsnya. Mengharukan......
****
Semenjak SMA dulu, aku kenal dengan seorang wanita bernama Wirayanti. Kami sudah menjalin hubungan selama 8 tahun, Dan di tahun ke delapan pula, aku harus merelakan dia menikahi oranglain yang tidak pernah dicintainya. Kakaknya menjodohkan dia dengan temannya sebagai balas budi kebaikan temannya terhadap keluarganya. Yang membiayai sekolah Yanti hingga masuk kuliah. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Meski sakit, aku harus merelakannya. Disitulah awal kebrutalanku semakin menjadi-jadi. Seorang manusia yang tengah patah hati dan merasa harapannya telah hancur oleh sebuah perjodohan kekasihnya bersama oranglain.
Setahun berlalu aku mencoba bangkit dari keterpurukan. Meski masih dijalan yang kelam, aku berusaha bangkit. Mengusir bayang-bayang Yanti dari hidupku. Hingga kemudian Tuhan mempertemukan aku dengan wanita lain. Namanya Dibya Kartika Dewi. Kartika begitu mencintaiku. Itulah kenapa sekarang nama anak pertamaku aku beri nama dia. Kartika, Nama yang indah, yang tak akan pernah aku lupakan hingga aku harus terus mengingatnya lewat nama anakku sendiri. Dan tentu saja, anakku bukan hasil dari pernikahan aku dengan Kartika. Karena ternyata Tuhan lebih menyayangi Kartika dibanding harus memberikan hidupnya untuk mendampingiku yang waktu itu masih terpuruk.
Tuhan harus mengambilnya dariku. Saat itu aku berpikir Tuhan benar-benar tak adil dengan hidupku. Aku yang baru saja bisa bangkit dari keterpurukanku, tiba-tiba saja aku harus tersadar bahwa orangtua Kartika tidak merestui hubungan kami. Alasannya memang masuk diakal. Aku yang saat itu menjadi anak nakal di kampungku menjadi alasan satu-satunya orangtua Kartika tidak menyetujui aku mencintai anaknya. Berbagai cara telah dilakukan untuk meyakinkan kedua orangtuanya. Agar mereka bisa menyetujui kami.
Kartika sayang Kartika malang. Kita benar-benar tak pernah ditakdirkan bersama. Saat kita tengah frustasi dan benar-benar putus asa, kita habiskan waktu bersama dengan semua kenakalan-kenakalan kami. Segala macam psikotropika kami konsumsi untuk menghilangkan kegalauan kami. Hingga tubuh Kartika tak bisa lagi menanggung semuanya. Terlebih rasa sakit hatinya yang tak pernah bisa bersatu denganku hingga maut memisahkan. Kenapa Tuhan begitu membenciku? Kenapa Tuhan senang membiarkan aku menderita? Belum hilang oleh rasa sakit kehilangan Yanti, sekarang aku benar-benar harus kehilangan Kartika selama-lamanya.
****
Seketika hening membunuh perbincangan kami di udara. Terasa di belahan bumi sana dia tengah meratapi semuanya. Semua yang dia ceritakan malam itu benar-benar membuatku seolah-olah aku berada dalam ceritanya. Menjadi dirinya, merasakan dan mengalaminya. Butir hangat tak terasa membasahi pipi, aku terharu. Aku yakin sulit mengalaminya. Tapi dia sanggup menjalaninya hingga bertemu dengan yang ketiga.
"Jadi bagaiman ai bisa bertemu dengan yang ketiga?" tanyaku menyambung ceritanya yang sempat terhenti.
"Ya, yang ketiga ini mamanya anak-anak." jawabnya.
"Ya gimana ceritanya?" tanyaku selidik ingin tahu.
"Gak kebayang gimana tampannya ya ai, sampai almarhum Dibya frustasi." kataku sedikit bercanda.
"Hahaha...." tawa khasnya, tawa yang selalu aku rindukan hingga saat ini.
"Udah ya, mau pulang dulu..." lanjutnya mengakhiri dialog malam itu.
****
Tak ada yang special di cerita yang ketiga, aku bahkan tidak mengingatnya. Bagaimana caranya dia bisa bertemu dengan yang sekarang. Yang selalu mengataiku kotoran dan kata-kata kotor lainnya. Seingatku dia dikenalkan oleh temannya dengan wanita bernama Ifah. Terus sebulan berlanjut, entah dua atau tiga bulan kemudian dia meminta bibinya untuk menemaninya melamar Ifah di belahan Jawa sana. Entah keberuntungan macam apa, hingga Ifah bertemu dia dalam keadaan sudah sadar dan baik. Mungkin dia yakin bahwa Ifah ini jodohnya. Meski tanpa cinta seperti yang selalu diungkapkannya padaku 6 tahun yang lalu.Saat dia katakan bahwa; "Tak akan pernah ada mantan anak atau mantan ayah......."
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar