Sabtu, 27 Februari 2016

AWAL II

Siang itu aku membolak-balikan ikan mas yang aku goreng, agar tak terbiarkan gosong diminyak panas.  Tangan kiri sibuk memasang ponsel di telingaku. Terkadang aku cekikikan mendengar guyonannya yang selalu berhasil membuat hatiku terloncat girang. kali ini aku sudah berada di tempat orang tuaku. Keputusan berpisah telah Aby (mantan suami) pilih. Meski getir, aku tetap harus menghargai keputusannya. Meski aku harus menyandang gelar yang selama hidupku aku tak pernah menyangka akan mendapatkannya. Menjadi seorang janda bukan sebuah perkara yang mudah. Diawal, aku merasa ini sebuah aib. Lalu kemudian aku sadar, ini bukan kemauanku. Dan aku harus mensyukurinya.

13 April 2010, Aby mengantarku pada orangtuaku. Malam itu, dengan rasa malu teramat sangat aku pulang membawa kegagalan di hadapan orangtuaku. Kegagalan membangun rumah tangga yang baru aku bina sekitar 4 tahun kurang. Entah apa yang menjadi pemicunya. Hingga saat ini pun aku tidak pernah mengerti apa sebab pemulanganku. Masa iddah sudah aku lewati, Memperbaiki kesalahan sudah aku lakukan untuk memperjuangkan rumah tanggaku agar tetap utuh. Tapi sepertinya, ada pihak ketiga yang begitu kuat mempengaruhi keputusan Aby. Hingga saat itu, diteras rumah aku terduduk membisu bersama Aby.
"Jadi Aby tidak akan rujuk dan memperbaiki semuanya? Aby udah gak sayang lagi sama Keyzha, sama Umy?? Tolong by, kalau memang Umy yang salah maafkan Umy, Umy janji akan berubah menjadi lebih baik, Umy akan lupain semua sikap ringan tangan Aby sama Umy, tapi tolong jangan tinggalin Umy, sekeras apapun Aby memperlakukan Umy, Umy tetap mencintai Aby. Kita buka lembaran baru, dan tutup lembaran lama. Umy mohon by, mohon......" jelasku panjang dan gemetar saat mengucapkannya menahan airmata agar tak turun di pipiku, sepanjang perjuanganku mempertahankan rumah tangga yang sudah di ujung tanduk.

 "TIDAK!!" jawaban singkat yang membuat runtuh pertahananku. Dan membuat aku tersedu di hadapannya. Dihadapan orang yang begitu aku cintai dan aku perjuangkan. Tatapannya dingin, menatap lurus tanpa memperdulikan aku yang tengah menangisinya.
"Tapi kenapa by, kenapa...???" ucapku lirih
Tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia terduduk mematung, dan aku terus terisak berusah tegar menerima semua keputusannya.
"Baiklah, Umy tanya sekali lagi sama Aby. Apakah Aby masih mencintai, menyayangi Umy....Apakah masih ada rasa cinta, sayang, kasih, atau iba sama Umy...??!! tanyaku penuh harap
"Teu!!!" jawabnya datar

Kali ini tangisku benar-benar pecah. Pagi itu itu aku tersadar dari mimpi burukku. Bahwa semua yang aku rasakan selama ini tak pernah terbalaskan. Hingga akhirnya aku benar-benar ikhlas melepas semuanya. Cintaku untuknya, kesetiaanku, sayangku, dirinya, aku benar-benar telah membebaskan perasaanku sendiri dan berdamai detik itu. Sepersekian detik, rasa itu benar-benar hilang dari hatiku. Dan seolah-olah aku melihatnya terbang menjauhiku. Hinggirnya akhirnya aku merasakan kekosongan dan kehampaan yang benar-benar kentara pagi itu.

****

"Masa sih..." 
Dengan senyum yang terus mengambang aku mendengarkan dia bicara. Selalu nyaman bila mendengar suaranya. Hingga saat tak tersadarkan, aku mengirimi dia sms yang aku pikir aku lancang telah mengatakannya malam kamis di bulan Mei tahun 2010 dulu.
"Kok tiba-tiba kangen ya...." smsku padanya
"Masa sih...." selalu jawaban yang sama

Bagaimana tidak merindukannya. Bila setiap pagi, siang, sore, malam dia selalu menelponku tak kenal waktu. Aku yang saat itu bagai anak kecil yang diberi gulali, selalu girang bila ada panggilan masuk darinya. Dia selalu membawaku ke dunianya. Selalu menggambarkanku apa yang sedang dilihatnya, didengarnya. Hingga aku benar-benar merasa berada di sampingnya. Bahkan saat jam kerjanyapun dia selalu menghubungiku. dan aku selalu senang bila ponselku berbunyi.

Pernah di satu petang dia menghubungiku disela-sela break kerja lemburnya.
"Tau nggak, saya lagi tiduran di pasir sambil liat langit.....bulannya terang..." katanya
Sontak aku yang lagi tiduran di kamar langsung berlari keluar, dan duduk diteras. Meski pemandangan langitnya terhalang bangunan-bangunan tinggi, tapi aku bisa melihat bulan terang yang dilihatnya.
"Iya...aku juga lihat..." timpalku
"Tapi kok dipasir sih...emang lagi di pantai ya...??" tanyaku sedikit heran.
"Iya di pantai..nih dengerin ombaknya...kedengeran nggak...?!" tanyanya memastikan padaku bahwa dia benar-benar berada di pantai saat itu.
"Iya sih...." jawabku masih sedikit ragu.
"Enak ya jam segini liat bulan di pantai." lanjutku
"Iya...kan proyeknya juga di pantai...nih ini aja selangkah lagi kaki basah kena ombak..." sambungnya.
"Mau..........." rengekku.

Dialog diudara terus tersambung hingga setengah jam berlalu dan dia harus kembali bekerja malam itu. Meninggalkan aku yang selalu merindukan pembiasaan darinya dan terlebih, PERHATIANNYA. 

Pembiasaan itu harus berakhir, saat proyek yang sedang dikerjakannya selesai. Awalnya aku tak tahu kalau proyeknya selesai. Karena dia hanya mengatakan padaku kalau dia harus pulang barang seminggu atau dua minggu. Dia hanya menitip pesan penting padaku seperti ini; "Jangan menelpon atau mengirim sms sebelum saya yang menelpon atau sms." Pesan singkat yang awalnya aku mengerti itu hanya sebatas pesan biasa. Ternyata.....

****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar