Katakanlah, ini tahun keenam perjalananku mengenali dia. Seseorang yang sanggup menggantikan posisi mantan suamiku dulu di hidupku. Aku memanggilnya "ai". Dari yang aku tahu sebelumnya disebuah majalah remaja dulu, kata "ai" berasal dari bahasa Jepang yang berarti "kasih". Setelah sekian banyak panggilan yang aku berikan buat dia, kata "ai" lah yang aku pilih hingga sekarang.
Awal perkenalanku dengan dia, memang tidak pernah disangka. Bahkan untuk berharap bertemu dangan orang seperti diapun tak pernah terlintas dipikiranku. Semuanya seperti sebuah skenario yang Tuhan tulis untukku dan dia hingga sekarang. Bahkan hingga sekarang aku tidak pernah menyadarinya, hingga aku bisa mengenali dia dan mencintainya.
"ai" aku memanggilnya, dengan huruf awal kecil, meski itu tertulis diawal kalimat sekalipun. Aku akan tetap menulisnya seperti itu. "ai'. tak boleh menjadi "Ai" , atau 'AI". Harus tetap "ai". Seperti bagaimana penggambaran perasaanku padanya. Harus tetap mencintainya, tidak boleh menjadi memilikinya, atau tidak mencintainya. Tidak boleh kurang atau lebih. Hanya mencintainya. Titik.
Hari itu, tahun 2010, Maret entah tanggal berapa, aku meminta suamiku (yang pada saat itu tengah masa islah dalam iddah) untuk menemani aku membeli hp disebuah pusat keramaian di Cicalengka. Setelah beberapa kali masuk ke berbagai counter hp dan melalukan penawaran. Entah kenapa pada hari itu, aku begitu tertarik pada satu mobile dan langsung memilihnya. Second sih sebenarnya. Disesuaikan sama bugget yang aku punya waktu itu. Hasil dari menjual cincin kawin yang sebentar lagi harus aku tanggalkan. Niat awal menjual cincin kawinku waktu itu sebenarnya bukan ingin membeli gadget yang beberapa bulan sebelumnya pernah mantan suamiku hancurkan karena egonya. Melainkan karena aku ingin memberi hadiah untuk mantan suamiku yang pada bulan Maret itu tengah milad. Karena aku sudah tidak dinafkahi dan memang tidak memiliki uang, aku terpaksa menjualnya dan membelikannya sebuah kado dan kue ulang tahun untuknya.
Setelah aku menyelesaikan pembayaranku, kami pulang menggunakan motor vespa yang baru saja dia kredit dari temannya. Ya....sepeninggal dari kata talak yang keluar dari mulutnya waktu itu serta penghancuran besar-besaran di rumah, dia lebih memilih kesibukan yang lain setelah pekerjaanya sebagai seorang sopir honorer di sebuah perusahaan BUMN di kota Bandung. Dia aktif disebuah club vespa dan perkumpulan lainnya. Yang menurutku, itulah tititk awal secara tak sadar dia mulai lupa dengan seluruh kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah dari anak angkat kami.
Sebenarnya bukan ini yang akan aku tulis disini. Tapi disinilah semuanya berawal.
***
Malam itu, aku mulai mengotak atik hp baruku. Anggaplah seperti itu, hp baru seperti yang lainnya. Hp baru bekas orang dan aku menyukainya. Sonny Erricson K310i. Kecil dan sepertinya memang cocok buatku, pikirku. Aku tidak pernah mengira, pemilik hp sebelumnya masih menyimpan semua kontaknya di hp ini hingga hp ini dipasarkan. Terlalu banyak kontak disini, dan aku sama sekali tidak mengenali mereka. Maka aku hapus satu persatu semua kontak yang ada di hp itu. Walau jujur saja, sebelum menghapusnya, aku mencoba melakukan panggilan terlebih dahulu. Bila tersambung, berarti masih aktif dan sebaliknya, begitu seterusnya. Hingga kemudian aku mengirimi satu persatu sms ke semua nomor yang masih aktif. Ada yang kemudian langsung membalas, dan ada juga yang mengabaikan smsku. Ada yang membalas sewajarnya, dan ada pula yang membalas tak wajar yang kemudian aku hapus dari list nomor kontak hp ini. Lagipula aku tidak mengenalnya pikirku waktu itu.
Dari sekian banyak yang aku hubungi dan aku sms. Ada satu orang yang membalas smsku yang seperti ini;
"Apakah semua laki-laki di dunia ini sama?"
"Semua laki-laki di dunia ini sama, yang beda itu sifatnya." balasnya.
Pertanyaan yang menggantung, dan jawaban yang menggantung pula darinya. Setelah smsku dia balas, lalu aku mencoba untuk tertidur.
Keesokan paginya ada panggilan masuk dari orang yang membalas smsku semalam. Tapi aku tidak mendengar suaranya. Dan tersambung dengan sms yang datang setelah dia menutup telponnya.
"Ini siapa?" tanyanya.
" Saya Rosma." balas smsku.
"Anak mana?" lanjutnya.
"Anak emak sama bapak." lanjutku lagi.
...................................................................... begitu seterusnya tentang pertanyaan dan jawaban singkat antara aku dan dia terus berlangsung hingga obrolan di telpon pun kami lakukan. Bahkan obrolan yang kami lalukan menjadi lebih intens dan akrab. Terkadang kami tak tahu waktu saat berdialog via udara saat itu. Belum ada perasaan yang aku mengerti untuk aku simpulkan saat itu. Aku hanya merasa cukup nyaman saat dia menelponku atau sekedar mengirimiku sms.
Bahkan aku sudah tak canggung lagi untuk menerima panggilan masuk darinya saat mantan suamiku sesekali menengok Keyzha, anak semata wayang kami. Meski obrolanku saat itu lebih didominasi oleku, dan dia hanya bertindak sebagai pendengar yang baik untuk semua curhatan tentang kehidupan pelik yang aku alami saat itu.
Bagiku saat itu, dialah orang pertama yang menjadi saksi bagaimana masa-masa gerhana itu aku alami sendirian. Yang mengetahui bagaimana tersiksanya aku ditinggalkan tergantung oleh orang yang aku sayangi saa itu. Suamiku sendiri. Hanya dia yang mampu mengerti perasaan kehilangan macam apa yang aku alami saat itu. Enam tahun yang lalu.
Bahkan hingga saat ini, aku masih bisa mengingat semua kata demi kata yang keluar dari suara yang keluar dari mulutnya. Aku sedang apa waktu itu, hingga semuanya benar-benar melekat kuat dalam ingatanku hingga saat ini. Tiba saatnya ketika aku ingin mengetahui siapa dia sebenarnya; dia hanya berkata "belum waktunya."
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar